Translate

Kamis, 15 Mei 2014

contoh Review pembelajaran


Metode-metode penafsiran ayat al-Qur’an
Pada pertemuan sebelumnya telah dibahas mengenai berbagai macam metode dalam menafsirkan ayat-ayat al-quran, seperti metode tafsir tahlili, ijmali, muqarin dan maudu’i. sekarang saya akan mencoba untuk menjelaskan kembali metode-metode penafsiran ayat-ayat al-quran tersebut.
1.       Metode tafsir tahlili
Metode tahlili merupakan suatu metode penafsiran ayat al-quran dengan maksud untuk menjelaskan kandungan dalam setiap ayat dengan detail, maka metode tahlili menafsirkan ayat al-quran secara spesifik  dengan memperhatikan berbagai aspek yang terkandung di dalamnya secara beruntut sesuai dengan urutan ayat tersebut di dalam mushaf. Kemudian setelah semua ayat terkupas tuntas maknanya,  mufassir tahlili menjelaskan seluruh aspek dari hasil penafsiran di atas dengan penjelasan secara konperhensif mengenai isi dan maksud ayat-ayat  Al-quran tersebut.
Kelebihan metode ini  antara lain adanya potensi untuk memperkaya arti kata-kata melalui usaha penafsiran terhadap kosakata ayat,syair-syair kuno dan kaidah ilmu nahwunya.[1] Namun metode ini mempunyai kelemahan karena penjelasan akhirnya kurang bisa mengambil setiap inti kandungan pada setiap ayat. Maka sebagai jalan keluar dan sekaligus diharapkan sebagai usaha menutupi kelemahan metode ini sejumlah ilmuan menawarkan metode lain yang dianggap lebih tepatnuntuk memahami mash al-quran, yaitu metode tematik (maudu’i) dan holistic (kulli) dengan pendekatan hermeneutic.[2]
2.       Metode tafsir muqaran
Metode muqaran adalah suatu metode penafsiran ayat al-Qur’an dengan cara membandingkan masalah atau pembahasan dalam satu ayat dengan ayat yang lainnya, dan juga membandingkan antara ayat dengan hadis-hadis Nabi Muhammad SAW, perbandingan ini ditinjau baik dari isi maupun segi redaksinya. Seperti yang telah dilakukan oleh ulama-ulama seperti al-Biqo’I, al-Razi, dll,.
3.       Metode tafsir ijmali
Metode ijmali merupakan metode penafsiran al-Qur’an yang menjelaskan kandungan makna yang terdapat pada ayat secara global, dengan kata lain metode ini hanya menjelaskan makna-makna yang terkandung dalam ayat al-Qur’an secara garis besarnya.

4.       Metode maudu’I
Metode maudu’I merupakan metode penafsiran al-Qur’an dimana mufassirnya berupaya menghimpun ayat-ayat al-Qur’an dari berbagai surat yang berkaitan dengan persoalan atau topik yang ditetapkan sebelumnya, kemudian penafsir membahas dasn menganalisis kandungan ayat-ayat tersebut sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh.[3] Metode ini adalah satu metode yang sama sekali berbeda dengan penafsiran berdasarkan pembahasan surah demi surah, dimana didalamnya kata dan ayat diteliti secara terpisah dari konteks umum teks yang ada dalam semua penggunaan Qur’an. Metode ini mempunyai banyak kelemahan salah satunya adalah metode ini tidak cukup memahami strukturnya yang jelas dan keunikan retorika yang dimilikinya. Karena itu, disamping menkritik metode tafsir yang digunakan oleh para mufassir Klasik dan Pertengahan, Bint al-Shan juga memberikan tanggapan negative terhadap metode tematik, sebagai gantinya ia menawarkan metode pendekatan tematik berdasarkan subyek demi subyek (al_khulli)
5.       Metode perpaduan tematik dan maudu’i
Kaitannya metode tematik dengan metode maudu’I adalah dari hasil peninjauan berbagai ulama tentang banyaknya perspektiv negative yang muncul setelah memahami jalannya proses tafsir maudu’I kemudian para ulama menawarkan cara untuk lebih menguatkan hasil penelitian metode maudu’I ini dengan metode tematik yang memang pada dasarnya tidaklah jauh berbeda dengan metode maudu’I, akan tetapi dengan adanya perpaduan dua metode ini diharapkan akan timbul sebuah pemahaman yang obyektif karena metode ini disediakan untuk mempelajari suatu obyek tertentu dalam al-Qur’an, dan lebih mencermati setiap ayatnya.




[1] Prof. Dr. H. Abuddin Nata, M.A., Metodologi Sutdi Islam (Depok:Rajawali press, 2013), hlm. 219
[2] Prof. Dr. H. Khoiruddin Nasution, M.A., Pengantar Studi Islam (Yogyakarta:ACAdeMIA + TAZZAFA, 2010),hlm. 124
[3] H.M. Quraish Shihab,membumikan Al-Qur’an (Bandung: Mizan, 1992),hal.87.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar