Metode-metode penafsiran ayat
al-Qur’an
Pada pertemuan
sebelumnya telah dibahas mengenai berbagai macam metode dalam menafsirkan
ayat-ayat al-quran, seperti metode tafsir tahlili, ijmali, muqarin dan maudu’i.
sekarang saya akan mencoba untuk menjelaskan kembali metode-metode penafsiran
ayat-ayat al-quran tersebut.
1.
Metode
tafsir tahlili
Metode tahlili merupakan suatu metode penafsiran ayat al-quran
dengan maksud untuk menjelaskan kandungan dalam setiap ayat dengan detail, maka
metode tahlili menafsirkan ayat al-quran secara spesifik dengan memperhatikan berbagai aspek yang
terkandung di dalamnya secara beruntut sesuai dengan urutan ayat tersebut di
dalam mushaf. Kemudian setelah semua ayat terkupas tuntas maknanya, mufassir tahlili menjelaskan seluruh aspek
dari hasil penafsiran di atas dengan penjelasan secara konperhensif mengenai
isi dan maksud ayat-ayat Al-quran
tersebut.
Kelebihan metode ini antara
lain adanya potensi untuk memperkaya arti kata-kata melalui usaha penafsiran
terhadap kosakata ayat,syair-syair kuno dan kaidah ilmu nahwunya.[1]
Namun metode ini mempunyai kelemahan karena penjelasan akhirnya kurang bisa
mengambil setiap inti kandungan pada setiap ayat. Maka sebagai jalan keluar dan
sekaligus diharapkan sebagai usaha menutupi kelemahan metode ini sejumlah
ilmuan menawarkan metode lain yang dianggap lebih tepatnuntuk memahami mash
al-quran, yaitu metode tematik (maudu’i) dan holistic (kulli) dengan pendekatan
hermeneutic.[2]
2.
Metode tafsir
muqaran
Metode muqaran adalah suatu metode penafsiran ayat al-Qur’an dengan
cara membandingkan masalah atau pembahasan dalam satu ayat dengan ayat yang
lainnya, dan juga membandingkan antara ayat dengan hadis-hadis Nabi Muhammad
SAW, perbandingan ini ditinjau baik dari isi maupun segi redaksinya. Seperti
yang telah dilakukan oleh ulama-ulama seperti al-Biqo’I, al-Razi, dll,.
3.
Metode
tafsir ijmali
Metode ijmali merupakan metode penafsiran al-Qur’an yang menjelaskan
kandungan makna yang terdapat pada ayat secara global, dengan kata lain metode
ini hanya menjelaskan makna-makna yang terkandung dalam ayat al-Qur’an secara
garis besarnya.
4.
Metode
maudu’I
Metode maudu’I
merupakan metode penafsiran al-Qur’an dimana mufassirnya berupaya menghimpun
ayat-ayat al-Qur’an dari berbagai surat yang berkaitan dengan persoalan atau
topik yang ditetapkan sebelumnya, kemudian penafsir membahas dasn menganalisis
kandungan ayat-ayat tersebut sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh.[3]
Metode ini adalah satu metode yang sama sekali berbeda dengan penafsiran
berdasarkan pembahasan surah demi surah, dimana didalamnya kata dan ayat
diteliti secara terpisah dari konteks umum teks yang ada dalam semua penggunaan
Qur’an. Metode ini mempunyai banyak kelemahan salah satunya adalah metode ini
tidak cukup memahami strukturnya yang jelas dan keunikan retorika yang
dimilikinya. Karena itu, disamping menkritik metode tafsir yang digunakan oleh
para mufassir Klasik dan Pertengahan, Bint al-Shan juga memberikan tanggapan
negative terhadap metode tematik, sebagai gantinya ia menawarkan metode
pendekatan tematik berdasarkan subyek demi subyek (al_khulli)
5.
Metode
perpaduan tematik dan maudu’i
Kaitannya metode
tematik dengan metode maudu’I adalah dari hasil peninjauan berbagai ulama
tentang banyaknya perspektiv negative yang muncul setelah memahami jalannya
proses tafsir maudu’I kemudian para ulama menawarkan cara untuk lebih
menguatkan hasil penelitian metode maudu’I ini dengan metode tematik yang
memang pada dasarnya tidaklah jauh berbeda dengan metode maudu’I, akan tetapi
dengan adanya perpaduan dua metode ini diharapkan akan timbul sebuah pemahaman
yang obyektif karena metode ini disediakan untuk mempelajari suatu obyek
tertentu dalam al-Qur’an, dan lebih mencermati setiap ayatnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar